Saturday, April 1, 2017

Pemuda Pemakmur Masjid



Masih tentang kisah liburan, kali ini saya akan menyoroti kondisi masjid di dusun saya. Masjid ini letaknya tidak begitu jauh dari rumah saya, hanya 50 meter saja jaraknya.Masjid yang baru direnovasi total pada tahun 2013 ini sekarang berdiri kokoh di tengah-tengah  warga dusun munjul. Tidak terlalu besar memang ukuran masjid ini, masjid ini hanya bisa menampung sebanyak 180 jamaah. Namun jumlah itu sudah sangat cukup untuk sholat jamaah 5 waktu. Namun, serasa kecil memang ketika digunakan untuk shola ied. Sehingga perlu memasang tenda di depan masjid ketika hari raya tiba.
            Tempat wudlu di masjid ini hanya tersedia satu saja, tidak ada pemisahan antara jamaah putra dan jamaah putri. Kondisi seperti ini sangat berisiko terjadinya ikhtilat (bercampur antara laki-laki dan perempuan) yang bisa melangar batas-batas syar’i. Namun, memang seperti itulah kondisi masyarakat disini yang belum menganggap ikhtilat menjadi masalah serius.
            Sekarang saya akan masuk melihat kondisi jamaah di masjid ini. Pertama, yang perlu diketahui adalah bahwa di dusun saya sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai petani, buruh dan ada sebagaian yang memilih menjadi TKI. Sebagian besar pemuda di dusun saya memilih untuk merantau untuk bekerja di Jabodetabek karena masih banyak yang beranggapan bahwa mereka akan benar-benar bekerja dan mendapatkan penghasilan ketika berada di kota metropolitan. Dan itu memang terjadi, karena beberapa pemuda (di luar pelajar) yang masih bertahan di dusun saya tidak sepenuhnya bekerja (setengah pengangguran).
            Maka jika kita mapping komposisi penduduk yang masih bertahan di dusun, kondisinya yaitu terdiri dari anak-anak (pelajar SD-SMP) sebesar 35 %, pemuda usia 15-40 tahun sebesar 15% dan sisanya adalah orang dewasa dan lansia sebesar 50%. Dari jumlah pemuda sebesar 15% menurut saya masih cukup banyak jika dikaryakan sebagai pemuda pemakmur masjid, jika saya lihat ketika kegiatan olahraga (Volly) rutin setiap sore masih ada minimal 2 tim volley dan beberapa orang pemain cadangan serta beberapa pemuda yang tidak bermain volly. Itu artinya, sebenarnya masih ada sekitar 20-30 pemuda yang masih bertahan di dusun saya.
            Namun, ketika saya perhatikan dari tahun ke tahun jumlah pemuda yang setia untuk menjadi pemakmur masjid semakin berkurang. Contohnya ketika sholat maghrib, jamaah sholat maghrib saja yang notabene sholat jamaah paling ringan dilakukan, pemuda yang hadir untuk ikut sholat jamaah hampir tidak ada. Terkadang hanya ada satu atau dua orang saja. Sisanya adalah bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak. Padahal ketika masih sore masih banyak pemuda yang masih bermain bola volley yang jarak lapangan dengan masjid begitu dekat, namun sangat jauh dan berat bagi pemuda tersebut.
Itu baru kita lihat dari sholat maghribnya saja. Ketika sholat isya tiba, kondisi tidak jauh berbeda namun ada sedikit penyusutan jumlah jamaah dibanding jamaah maghrib. Begitu dengan Jamaah sholat Subuhnya, semakin menyusut saja. Namun yang lebih parahnya lagi adalah ketika datang waktu dhuhur dan ashar. Sering ketika datang waktu duhur dan ashar justru tidak ada orang yang adzan, otomatis sholat jamaah pun tidak berjalan. Kondisi ini terjadi karena ketika waktu duhur para jamaah yang mayoritas bapak-bapak sedang berada di ladang dan enggan untuk pulang tepat waktu untuk istirahat sholat duhur di masjid. Begitu dengan waktu ashar, para petani juga enggan untuk pulang lebih awal. Mereka terbiasa pulang dari ladang sekitar pukul 16.30. lantas jam berapa mau sholat ashar? Begitu dengan para pemudanya, lebih memilih untuk lebih awal datang ke lapangan volley daripada lebih awal mengerjakan sholat wajib berjamaah di masjid. Para pemuda baru keliatan di masjid ketika sholat jumat tiba. Come on brother, kemarin lo kemana aja sudah dipanggil pake adzan kagak pada dateng.? Masjidnya sudah bagus lhoo, bersih dan wangi lagi. :D
Sejak direnovasi tahun 2013 lalu, masjid kami jadi lebih bagus dan bersih memang. Namun, perbaikan masjid saja tidak cukup. Sangat penting untuk memperbaiki kondisi warganya, terutama yaitu remaja dan pemudanya. Karena pemuda adalah tiang pembangunan bangsa, tanpa pemuda bangsa ini belum bisa merdeka. coba kita lihat pemuda pada zaman Rasulullah, ada Usamah bin Zaid seorang pemuda berusia 17 tahun yang sudah diamanahi sebagai panglima perang. Atau kita coba putar ingatan kita pada abad ke-15 ketika soarang pemuda 21 tahun yang sudah menjadi pemimpin suatu negara dan ketika itu juga dapat menaklukan kota adikuasa KONSTANTINOPEL, belau adalah Muhammad Al Fatih yang merupakan sebaik-baik pemimpin dengan sebaik-baik pasukan perangnya pada zaman itu. Bagaimana dengan kita sekarang, di usia saya yang sudah hampir 22 Tahun ini sudah berbuat apa untuk masyarakat, bangsa dan Agama? ayo berubah, marilah kita berproses menjadi pemuda yang produktif, pemuda yang baik akhlaknya, dan pemuda yang baik ilmu agamnya. Yuk semangat menjadi pemuda pemakmur masjid, siapa tahu kamu ketemu calon mertua disitu. :D

Semarang, 18 Feb- 1 April 2017
(tulisan yang sempat tertunda)
Di Sebuah ruangan yang penuh inspirasi

No comments:

Post a Comment