Masih
tentang kisah liburan, kali ini saya akan menyoroti kondisi masjid di dusun
saya. Masjid ini letaknya tidak begitu jauh dari rumah saya, hanya 50 meter
saja jaraknya.Masjid yang baru direnovasi total pada tahun 2013 ini sekarang
berdiri kokoh di tengah-tengah warga
dusun munjul. Tidak terlalu besar memang ukuran masjid ini, masjid ini hanya
bisa menampung sebanyak 180 jamaah. Namun jumlah itu sudah sangat cukup untuk sholat
jamaah 5 waktu. Namun, serasa kecil memang ketika digunakan untuk shola ied.
Sehingga perlu memasang tenda di depan masjid ketika hari raya tiba.
Tempat wudlu di masjid ini hanya
tersedia satu saja, tidak ada pemisahan antara jamaah putra dan jamaah putri.
Kondisi seperti ini sangat berisiko terjadinya ikhtilat (bercampur antara
laki-laki dan perempuan) yang bisa melangar batas-batas syar’i. Namun, memang
seperti itulah kondisi masyarakat disini yang belum menganggap ikhtilat menjadi
masalah serius.
Sekarang saya akan masuk melihat
kondisi jamaah di masjid ini. Pertama, yang perlu diketahui adalah bahwa di
dusun saya sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai petani, buruh dan
ada sebagaian yang memilih menjadi TKI. Sebagian besar pemuda di dusun saya
memilih untuk merantau untuk bekerja di Jabodetabek karena masih banyak yang
beranggapan bahwa mereka akan benar-benar bekerja dan mendapatkan penghasilan
ketika berada di kota metropolitan. Dan itu memang terjadi, karena beberapa
pemuda (di luar pelajar) yang masih bertahan di dusun saya tidak sepenuhnya
bekerja (setengah pengangguran).
Maka jika kita mapping komposisi
penduduk yang masih bertahan di dusun, kondisinya yaitu terdiri dari anak-anak
(pelajar SD-SMP) sebesar 35 %, pemuda usia 15-40 tahun sebesar 15% dan sisanya
adalah orang dewasa dan lansia sebesar 50%. Dari jumlah pemuda sebesar 15%
menurut saya masih cukup banyak jika dikaryakan sebagai pemuda pemakmur masjid,
jika saya lihat ketika kegiatan olahraga (Volly) rutin setiap sore masih ada
minimal 2 tim volley dan beberapa orang pemain cadangan serta beberapa pemuda
yang tidak bermain volly. Itu artinya, sebenarnya masih ada sekitar 20-30
pemuda yang masih bertahan di dusun saya.
Namun, ketika saya perhatikan dari
tahun ke tahun jumlah pemuda yang setia untuk menjadi pemakmur masjid semakin
berkurang. Contohnya ketika sholat maghrib, jamaah sholat maghrib saja yang
notabene sholat jamaah paling ringan dilakukan, pemuda yang hadir untuk ikut
sholat jamaah hampir tidak ada. Terkadang hanya ada satu atau dua orang saja.
Sisanya adalah bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak. Padahal ketika masih sore
masih banyak pemuda yang masih bermain bola volley yang jarak lapangan dengan
masjid begitu dekat, namun sangat jauh dan berat bagi pemuda tersebut.
Itu baru kita lihat dari sholat maghribnya saja. Ketika
sholat isya tiba, kondisi tidak jauh berbeda namun ada sedikit penyusutan
jumlah jamaah dibanding jamaah maghrib. Begitu dengan Jamaah sholat Subuhnya,
semakin menyusut saja. Namun yang lebih parahnya lagi adalah ketika datang
waktu dhuhur dan ashar. Sering ketika datang waktu duhur dan ashar justru tidak
ada orang yang adzan, otomatis sholat jamaah pun tidak berjalan. Kondisi ini
terjadi karena ketika waktu duhur para jamaah yang mayoritas bapak-bapak sedang
berada di ladang dan enggan untuk pulang tepat waktu untuk istirahat sholat
duhur di masjid. Begitu dengan waktu ashar, para petani juga enggan untuk
pulang lebih awal. Mereka terbiasa pulang dari ladang sekitar pukul 16.30. lantas
jam berapa mau sholat ashar? Begitu dengan para pemudanya, lebih memilih untuk
lebih awal datang ke lapangan volley daripada lebih awal mengerjakan sholat
wajib berjamaah di masjid. Para pemuda baru keliatan di masjid ketika sholat
jumat tiba. Come on brother, kemarin lo kemana aja sudah dipanggil pake adzan
kagak pada dateng.? Masjidnya sudah bagus lhoo, bersih dan wangi lagi. :D
Sejak direnovasi tahun 2013 lalu, masjid kami jadi
lebih bagus dan bersih memang. Namun, perbaikan masjid saja tidak cukup. Sangat
penting untuk memperbaiki kondisi warganya, terutama yaitu remaja dan
pemudanya. Karena pemuda adalah tiang pembangunan bangsa, tanpa pemuda bangsa
ini belum bisa merdeka. coba kita lihat pemuda pada zaman Rasulullah, ada Usamah bin Zaid seorang pemuda berusia 17 tahun yang sudah diamanahi sebagai panglima perang. Atau kita coba putar ingatan kita pada abad ke-15 ketika soarang pemuda 21 tahun yang sudah menjadi pemimpin suatu negara dan ketika itu juga dapat menaklukan kota adikuasa KONSTANTINOPEL, belau adalah Muhammad Al Fatih yang merupakan sebaik-baik pemimpin dengan sebaik-baik pasukan perangnya pada zaman itu. Bagaimana dengan kita sekarang, di usia saya yang sudah hampir 22 Tahun ini sudah berbuat apa untuk masyarakat, bangsa dan Agama? ayo berubah, marilah kita berproses menjadi pemuda yang produktif,
pemuda yang baik akhlaknya, dan pemuda yang baik ilmu agamnya. Yuk semangat
menjadi pemuda pemakmur masjid, siapa tahu kamu ketemu calon mertua disitu. :D
Semarang,
18 Feb- 1 April 2017
(tulisan
yang sempat tertunda)
Di
Sebuah ruangan yang penuh inspirasi
No comments:
Post a Comment