Di
suatu sore ketika saya sedang asyik menulis di kamar tiba-tiba ada sesuatu yang
membuat saya kaget karena ada suara keramaian seperti di pasar. Sontak membuat
saya langsung keluar rumah untuk melihat keadaan yang sedang terjadi, takutnya
ada kejadian yang tidak diinginkan karena banyak ibu-ibu di depan masjid sedang
berkerumun. Setelah saya cari tahu ternyata hanyalah kerumunuan ibu-ibu yang
sedang melakukan agenda mingguan yaitu yang biasa kita kenal dengan nama
ARISAN. Dalam benak saya bergumam, kok bisa-bisanya hanya acara arisan saja
ramenya kaya di pasar. Kejadian ini berlangsung cukup lama sekitar setengah
jam, sehingga cukup membuat telinga ini kurang nyaman.
Seperti
itulah gambaran ketika para perempuan saling bertemu, pasti ada-ada saja yang
dibicarakan. Ketimbang laki-laki, perempuan memang lebih suka berbicara.
Menurut penelitian yang dilakukan dalam studi di Amerika Serikat yang
mengatakan bahwa dalam sehari perempuan dapat mengucapkan sekitar 20 ribu kata, sementara lelaki hanya
7 ribu kata per hari. Penyebab perbedaan jauh itu karena pada perempuan ada
sebuah protein bernama Foxp2 yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang yang
ada pada laki-laki. Maka tak heran jika perempuan lebih cerewet ketimbang
laki-laki. Fakta di atas diperparah dengan kebiasaan ibu-ibu rumah tangga yang
ketika ditinggal oleh para suaminya bekerja mereka lebih suka berkumpul dengan
ibu-ibu lainnya, sehingga pembicaraan pun semakin sering terjadi. Coba bandingkan ketika para lelaki saling
berkumpul, biasanya mereka berbicara dan bergurau seadanya dengan ditemani kopi
ataupun rokok yang ada di sela-sela jarinya (penulis tidak merokok).
![]() |
| Tampak dari Kejauhan: Ibu-ibu ARISAN sedang berkumpul |
“ Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan hari kemudian, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau lebih baik
diam”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas bukan hanya untuk perempuan lhoo, tapi
juga untuk laki-laki. Walaupun perempuan yang lebih banyak berbicara, namun
perintah untuk menjaga lisan ditujukan kepada seluruh umat manusia. Bagaimana
bisa satu lisan saja jika tidak dijaga dengan baik maka akan dapat menyakiti
hati orang lain. Contoh saja kasus yang tengah melanda umat islam di Indonesia.
Gara-gara lisan seorang pejabat publik (red: Ahok) yang tidak bisa dijaga
dengan baik dapat melukai jutaan umat muslim di dunia, terutama di Indonesia. Sehingga
muncullah aksi 411 dan 212 yang begitu luar biasa dapat menyatukan jutaan umat
islam Indonesia. Saya pun secara pribadi sangat marah mendengar ucapan Ahok
yang menista Al Quran, menisa Islam. Menurut saya, sangat tidak pantas seorang
pemimpin yang seharusnya menjadi panutan warganya malah justru berkata yang
tidak baik.
Kita harus ingat bahwa perkataan adalah doa, jika
perkataanmu baik maka doamu juga baik dan sebaliknya jika perkataan kita buruk
maka itulah doamu. Kita juga harus selalu ingat bahwa malaikat Roqib dan Atid
selalu mencatat apa saja yang kita perbuat, termasuk lisan kita. Tidak ada satu
kata pun yang tidak mereka catat sebagai amal kita. Namun, di akhirat kelak
mulut kita dikunci. Lisan ini tidak
bisa bersaksi di hadapan Allah, Lisan ini tidak bisa mengeluarkan perkataan
dusta kepada-Nya. Hanya Anggota tubuh lainnya yang dapat bersaksi di
Hadapan-Nya dan mempertanggungjawabkan apa saja yang pernah kita perbuat,
termasuk ucapan yang keluar dari lisan kita.
Sudah
selayaknya kita sebagai manusia berbuat sesuai dengan fitrahnya, yaitu berbuat
kebaikan. Gunakanlah lisan kita sebagai sarana berbuat kebaikan, berdoa,
berdzikir, bersholawat, membaca Al Quran dan aktivitas positif lainnya. Bukan
untuk berbuat kemungkaran, menggunjing, mencaci, memaki, menghina dan
sebagainya. Menjaga lisan memang tidak mudah, teruslah berikhtiar untuk berkata
baik. Jika tidak bisa berkata baik, diam menjadi pilihan terbaik.
Purwokerto, 5 Februari
2017

No comments:
Post a Comment