![]() |
| Ilustrasi: Google |
Ketika liburan semester tiba maka
saatnya kita pulang ke kampung halaman. Sebagai mahasiswa perantauan, saya pun
selalu menanti-nanti momen seperti ini. Tentu menjadi kurang menarik ketika
harus menghabiskan waktu satu bulan lebih tanpa kegiatan yang bermanfaat.
Karena liburan terlalu lama pun akhirnya sangat membuat saya bosan.
Untuk mengisi waktu liburan saya
mencoba untuk mencari kegiatan yang produktif dan tentunya bermanfaat. Hari
pertama liburan masih semangat dengan mencari rekan yang kuliah di daerah
sekitar banyumas untuk diajak diskusi dan sharing. Alhamdulillah hari itu dapat
ilmu yang cukup bermanfaat tentang kepenulisan bersama mas Syah dari IAIN
Purwokerto. Hari-hari berikutnya saya pun lebih sering di rumah, namun cukup ada
pekerjaan yang bisa kerjakan. Kadang pergi ke ladang untuk sekedar membantu
bapak, namun lebih sering di rumah untuk membantu beberes rumah atau untuk
menjemur kapulaga hasil panen dari ladang. Lumayan juga, harga kapulaga kering
di tengkulak Rp. 70.000 per kilogramnya. Selama liburan Alhamdulillah dapat 9KG
kapulaga kering.
Berbagai kegiatan telah dilakukan
dan berbagai kebutuhan seperti makan selalu terpenuhi selama liburan, namun
masih ada sesuatu yang kurang dan belum terpenuhi selama liburan. Ruh ini
serasa kering, ruh ini merindukan nasihat-nasihat para ulama, rindu akan duduk
di majelis ilmu, dan rindu akan orang-orang shalih yang sering berada di
sekeliling. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga ruh ini tetap subur, apa kabar
tilawahku? Apa kabar dhuha dan tahajjudku?
Selama di kampung halaman, tidak ada
sekali pun kajian ilmu yang dijalankan di masjid. Khotbah jumat sebagai event
mingguan yang seharusnya bisa menambah perbekalan ilmu serasa tak menarik untuk
didengarkan. Selain menggunakan bahasa jawa( entah jawa krama atau apa) yang
sulit untuk dipahami, isi khotbah yang disampaikan pun dilakukan dengan membaca
secara text book tulisan arab yang membuat khotib terkadang kesulitan
membacanya. Dengan seperti itu maka khotbah hanya sebagai syarat/rukun sholat
jumat saja, tidak ada manfaat untuk menambah keilmuan masyarakat.
Adapun jika ingin menghadiri
majelis-majelis ilmu harus pergi ke kota Purwokerto yang jaraknya 30 KM dari
tempat saya, harus ditempuh selama kurang lebih satu jam dengan kondisi jalanan
yang cukup sepi jika berkendara pada malam hari. Dengan kondisi seperti ini
ternyata semakin menambah kefuturanku. Semoga dengan berangkat kembali ke
tempat mencari ilmu di Semarang membuat semangat ruh ini, menghidupkan ruh ini
kembali.
Yang harus saya lakukan sekarang
bukan hanya mengutuk kegelapan, harus bisa menyalakan cahaya dengan caraku.
Suatu saat nanti semoga aku bisa menghidupkan suasana majelis ilmu di kampung
saya, membuat berbagai kegiatan yang positif untuk anak-anak, remaja ataupun
kalangan lainnya dengan menyatukan kembali semangat pemuda kampung tercinta.
Yap semoga saja, kita yang merencanakan Allah lah yang menentukan.
Semarang,
14 Februari 2017

No comments:
Post a Comment