Tuesday, February 14, 2017

Ruh yang Kering


Ilustrasi: Google


            Ketika liburan semester tiba maka saatnya kita pulang ke kampung halaman. Sebagai mahasiswa perantauan, saya pun selalu menanti-nanti momen seperti ini. Tentu menjadi kurang menarik ketika harus menghabiskan waktu satu bulan lebih tanpa kegiatan yang bermanfaat. Karena liburan terlalu lama pun akhirnya sangat membuat saya bosan.
            Untuk mengisi waktu liburan saya mencoba untuk mencari kegiatan yang produktif dan tentunya bermanfaat. Hari pertama liburan masih semangat dengan mencari rekan yang kuliah di daerah sekitar banyumas untuk diajak diskusi dan sharing. Alhamdulillah hari itu dapat ilmu yang cukup bermanfaat tentang kepenulisan bersama mas Syah dari IAIN Purwokerto. Hari-hari berikutnya saya pun lebih sering di rumah, namun cukup ada pekerjaan yang bisa kerjakan. Kadang pergi ke ladang untuk sekedar membantu bapak, namun lebih sering di rumah untuk membantu beberes rumah atau untuk menjemur kapulaga hasil panen dari ladang. Lumayan juga, harga kapulaga kering di tengkulak Rp. 70.000 per kilogramnya. Selama liburan Alhamdulillah dapat 9KG kapulaga kering.
            Berbagai kegiatan telah dilakukan dan berbagai kebutuhan seperti makan selalu terpenuhi selama liburan, namun masih ada sesuatu yang kurang dan belum terpenuhi selama liburan. Ruh ini serasa kering, ruh ini merindukan nasihat-nasihat para ulama, rindu akan duduk di majelis ilmu, dan rindu akan orang-orang shalih yang sering berada di sekeliling. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga ruh ini tetap subur, apa kabar tilawahku? Apa kabar dhuha dan tahajjudku?
            Selama di kampung halaman, tidak ada sekali pun kajian ilmu yang dijalankan di masjid. Khotbah jumat sebagai event mingguan yang seharusnya bisa menambah perbekalan ilmu serasa tak menarik untuk didengarkan. Selain menggunakan bahasa jawa( entah jawa krama atau apa) yang sulit untuk dipahami, isi khotbah yang disampaikan pun dilakukan dengan membaca secara text book tulisan arab yang membuat khotib terkadang kesulitan membacanya. Dengan seperti itu maka khotbah hanya sebagai syarat/rukun sholat jumat saja, tidak ada manfaat untuk menambah keilmuan masyarakat.
            Adapun jika ingin menghadiri majelis-majelis ilmu harus pergi ke kota Purwokerto yang jaraknya 30 KM dari tempat saya, harus ditempuh selama kurang lebih satu jam dengan kondisi jalanan yang cukup sepi jika berkendara pada malam hari. Dengan kondisi seperti ini ternyata semakin menambah kefuturanku. Semoga dengan berangkat kembali ke tempat mencari ilmu di Semarang membuat semangat ruh ini, menghidupkan ruh ini kembali.
            Yang harus saya lakukan sekarang bukan hanya mengutuk kegelapan, harus bisa menyalakan cahaya dengan caraku. Suatu saat nanti semoga aku bisa menghidupkan suasana majelis ilmu di kampung saya, membuat berbagai kegiatan yang positif untuk anak-anak, remaja ataupun kalangan lainnya dengan menyatukan kembali semangat pemuda kampung tercinta. Yap semoga saja, kita yang merencanakan Allah lah yang menentukan.

Semarang, 14 Februari 2017

No comments:

Post a Comment